Category Archives: Poems

Selamat Ulang Tahun

Bila hari ini umurku bertambah, jangan kau ucap

Karna pagiku tak pernah ada lagi kamu

Jangan kau dendangkan lagu itu

Karna getarannya sudah terdengar fals di rusukku

Sebaiknya jangan kau tipu,

karna ku tahu itu kosong

Buat apa kata kata manismu, pengingat rasa

Bila cuma rona merah membakar jiwa?

Tak payah kau ingat, jangan kau ucap!

 

 

Medan, Juni 2016

 

Advertisements

Leave a comment

Filed under Poems, Uncategorized

jika kamu letih, berhentilah sejenak

Jika kamu letih, berhentilah sejenak

Jangan berlari, apalagi melompat jingkrak

Tarik nafas, tatap indahnya biru langit

Berharap harap datangnya hujan

Siapa tahu ada hati beku diguyur rindu

Ya, berhentilah sejenak

Mainkan memori indah tentang dia

Lelapkan jiwa dalam damai cinta

Siapa tahu memang dia lah pemilik sepatu kaca itu

 

Kota Samarahan, Mei 2016

Leave a comment

Filed under Poems

Lagu cinta beda

Satu tangga lagu saja kita nyanyikan merdu

Itu pun belum diaduk gaduh dan rasa cemburu

Kamu, aku, dan masa masa itu,

Diterbangkan oleh waktu, dihanyutkan rasa rindu

Ah, kini semua hilir mudik sebagai imaji

Geram, kunyah lidah, hela nafas, dan linang air mata

Itu bukan salah kamu, bukan juga salah aku

Mungkin karena kita bukan pandita cinta yang boleh terangkan makna cinta

Mungkin juga salah takdir kita, yang terlahir beda

Sebanyak hujan yang turun, sebanyak itu ku gaungkan indah kata cinta

Berulang kali, cinta itu lebih besar daripada sekat agama

Tapi kau tak percaya,

nada cinta itu hanya lirihan sepi terdengar buruk dari kaset yang usang

Meski hati kecilmu percaya, tapi akhirnya kita tidak sama

Lagu merdu yang kita selalu nyanyikan bersama itu pun terhenti, penusuk rasa rindu dan sepi

Jumpakan lagi cinta kita di kehidupan yang berbeda

 

Desember 2014, Kota Samarahan

Leave a comment

Filed under Poems

Kamu, Aku Rindu

Ialah rindu, sunggingkan bibir, helakan nafas

Ialah sepi, belaikan hati, tampung air mata

Ia adalah kau, pemberi perih sepi sunyi ini

Daun bergoyang, angin bersepoi

Sakit ujung kaki, hangat daun telinga

Pipi merona panas, hanya malu yang hentikan riak suara ini

Di ujung bibir aku tahan, aku dekap, aku bisu, aku menerawang

Tiga kata itu, ku lafaskan dalam doa, embunkan dalam udara, terbangkan lewat hati, agar kau rasa, agar kau cicip perlahan

Tiga kata itu: Kamu, Aku rindu

 

 

Agustus 2014, Kota Samarahan

Leave a comment

Filed under Poems

Senyap senyap aku kamu

Aku yang datang senyap senyap ke duniamu

Merangkai kata beribu alasan tuk menyapamu

Ku sapa santun tuk alihkanmu sesaat dari kabut perantara penghalang mata

Satu, dua, tiga hari ku melompat-lompat tinggi agar hati yang kau simpan rapat mampu melihatku

Senyap senyap ku hembuskan rasa

Senyap senyap ku hembuskan cinta

Senyap senyap kita jatuh cinta

Aku kamu adalah satu tapi tak serupa

Ada nadir, jijik, curi ruang hati kita dan kini pun hampa

Senyap senyap pula kau mengalun pelan jauhi dunia kita

Senyap senyap kau hisap relung jiwa, ruang kosong tanpa arah ini

Tapi bolehkah ku cicip perlahan rasa yang dahulu ada,jangan kau pacu

Biar senyap senyap aku hilang darimu, dari ingatanmu, tapi tolong jangan kau pacu

Karna kau tahu aku tahu, aku kamu adalah satu tapi tak serupa

Penang, Juni 2013

3 Comments

Filed under Poems

Aku Mungkin Kamu

Aku mungkin bukan bintang yang selalu ingin kau intip

Aku mungkin bukan bulan yang temankan kau meratap

Aku juga bukan bunga yang ingin kau hidu

Bahkan aku mungkin duri dalam kisah hidupmu

Aku ialah debu yang mencoba mengusik matamu

Aku bukan orang yang bisa membuatmu tertawa dan tersenyum

Aku juga orang yang tidak selalu hadir bersamamu

Aku hanya hadirkan pilu rindu dan sepi, siakan airmatamu

Jangankan hadir di mimpi, terbesitmu pun aku tidak

Tapi aku yakin, kalau aku lah asal tulang rusukmu

Leave a comment

Filed under Poems

Hujan dan Tanah

Berkali kali aku cemburu sama hujan dan tanah. Bagaimana tidak, apapun ceritanya, hujan akan kembali ke tanah. Setiap hujan datang, dia akan menghampiri tanah. Menghantamnya terlebih dahulu, lalu merasukinya, dan menyatu dengan tanah. Hujan datang kapan pun dia mau. Terkadang dengan petanda, terkadang tiba-tiba. Terkadang mengguyur lama, terkadang cepat. Tanah hanya diam saja. Dia diam dan tak bergerak. Dia pasrah dan tak marah. Dia sabar dan tak akan menolak hujan.

Aku cemburu sama hujan dan tanah. Bagaimana tidak, hujan terkadang datang dengan debu selingkuhannya. Terkadang pula dengan serangga-serangga yang sedang mengudara. Tanah tetap terima hujan. Dia pasrah dan diam. Ketika debu dan daun menempel di tanah, hujan datang mengguyur dan menghanyutkan mereka. Hujan boleh selingkuh, tapi tidak dengan tanah. Aku jadi semakin cemburu dengan kisah mereka. karena meskipun Hujan bermesra dengan yang lain dan tidak mengizinkan yang lain menempel tanah, tanah tetap menerima hujan. Continue reading

Leave a comment

Filed under Poems