Mari Kita Bergaduh lagi

“Bapakku lebih hebat, lebih kuat, dia bisa menaklukan dunia” Ujar si Budi.

“Tidak! Bapakku lebih kuat, dia bisa membangkitkan orang mati. Dia berkuasa atas maut” balas Badu dengan penuh semangat.

Perdebatan itu berlanjut dengan adu mulut. Tidak jarang berakhir dengan perkelahian. Lucunya, terkadang Budi mengajak teman lainnya mengeroyok Badu. Badu pun tidak mahu kalah. Dia bahkan pengaruhi gurunya untuk menghajar Budi. Perkelahian terus terjadi hanya karena ingin pengakuan Bapak siapa yang terhebat.

Budi dan Badu tinggal di rumah Yatim Piatu. Mereka tidak pernah bertemu langsung dengan Bapak mereka. “Kamu harus menunggu hingga akhir hayat, lalu kamu boleh memasuki rumahnya” begitulah penjelasan guru mereka jika bertanya bagaimana cara untuk bertemu Bapak. “Kamu harus bersabar, berbagi kasih, dan berbuat baik dulu, maka kamu bisa ketemu Bapak”. Tapi Budi dan Badu sudah menanam dalam hati, bahwa Bapak mereka lah yang paling hebat. Bapak yang mampu mengalahkan raksasa. Lebih kuat daripada Gatot Kaca. Lebih rupawan daripada Arjuna. Sayangnya mereka tidak pernah ketemu Bapak mereka. Sayangnya, mereka tidak pernah sadar bahwa (mungkin) Bapak mereka sama.

Perkelahian antara anak anak kecil sering kali tidak substansial. Mereka bergaduh atas mainan yang terkadang memang bukan milik mereka, atas perempuan mungil nan iseng yang suka menggoda mereka, atau atas Bapak siapa yang lebih hebat.

Perkelahian antara anak anak kecil ini pula terkadang pemicu pergaduhan antara ibu dan bapak atau bahkan antara orang tua. “Itu lah! Kamu kerja terus, ga pernah mau perhatian sama anak!” Ujar si Ibu. Atau, “Anakmu pelit amat, mainan murahan gitu aja ga mahu berbagi. Sama aja kayak Bapaknya” ejek Bapak yang satu ke Bapak Lainnya.

Perkelahian antara anak anak kecil ini mampu merenggangkan hubungan suami-istri, atau bahkan antar tetangga. Runyam. Bergaduh untuk hal hal yang tidak essential.

Hal yang serupa acap kali kita temui sekarang ini. “Presidenmu ndeso! Ngebaca aja ga bisa!”. “Dasar hardliner partai sapi, otak pun jadi terkorupsi”. “Kamu kalau ga suka sama UU Dasar, tinggal sana di Afrika (Utara)”. Kita sekarang penuh dengan kebencian. Kita suka bergaduh untuk hal yang terkadang bisa diselesaikan dengan berlapang dada. Kita sekarang seperti anak anak kecil yang suka bergaduh dengan isu yang terkadang (memang) tidak penting.

Yang buat runyam itu, rasa benci ini dicampur dengan rasa mahu menang sendiri. Lihat aja para pendukung Flat Earth. Mahu dibilang tujuh puluh juta kali dengan sains dan fakta pun, mereka bergeming. Begitu juga dengan pendukung Jokowi vs non-Jokowi. Ada berita negatif dikit? Sambar kayak elang kelaparan ngeliat kelinci tidur di padang luas. Yang penting senang, (ngerasa) menang, dan peduli setan dengan apa orang bilang. Apalagi dengan perasaan orang.

Dikotomi ini semakin menjadi. Kayak kudis yang bernanah, bukannya diobati, tapi malah diperparah. Tujuannya ya itu tadi. Pengen dicap pintar dan terhebat. Padahal ga sadar mereka sama dengan anak anak kecil yang sedang bergaduh tentang Bapak siapa yang terhebat.

Saya, yang sedang putus harapan ini, merasa tidak ada cara yang terbaik dalam semesta ini lagi untuk menentramkan kegaduhan para anak kecil itu. Coba Tanya diri masing masing, apakah kita mahu untuk tidak nge-share di fb ketika ada berita yang menjatuhkan lawan kita? Bisakah kita simpan untuk diri sendiri sebagai bahan refleksi? Bisakah kita berhenti untuk berbagi informasi informasi yang menyakiti perasaan orang lain? Bisakah kita hentikan ngebalesin tautan tautan teman kita jika kita memang tidak memiliki fakta saintifik yang kukuh? Bisakah kita bercerita tentang indahnya dunia? Atau kita memang sedang berlatih untuk menjadi orang yang merasa tahu segalanya, merasa ingin dikenal kebodohannya, dan terlebih lagi ingin supaya dilihat eksis oleh temannya? Kalau begitu, mari kita bergaduh lagi

“Bapak saya paling hebat! Bapakmu tidak. Cop!”

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s