Bertanggungjawablah sedikit…

Hari ini hujan dan saya tidur banyak. Tapi ternyata itu tidak cukup untuk menenangkan diri. Semoga dengan menulis, perasaan jadi normal. Begitu gumam saya dalam hati.

Di hujan ini pikiran saya masih melayang pada tiga pertanyaan yang mengesalkan hati. Nanti kamu tahu sendiri kenapa mengesalkan hati.

“Sir, Budi (bukan nama sebenar) asked why I just reported coefficient values and standard error in my table of result and stated it is significant or not? How the reader will know the p-value?”

Okay, saya termangu terbodoh terdiam. Tapi pertanyaannya membekas di hati sampai sekarang

“Sir, Joko (bukan nama sebenar) asked why I didn’t put all results of pooled, random effect, and fixed effects in my table?”

Okay, saya senyum getir. Tapi pertanyaannya membekas di hati sampai sekarang

“Sir, Taufik (bukan nama sebenar) asked why I should not run the heteroscedasticity?

Dan pertanyaan itu pertanyaan terakhir yang membuat saya semakin banyak menghela nafas.

Anyway, saya ga akan membahas apa jawaban dari tiga pertanyaan tersebut. Biarkan lah mahasiswa bimbingan saya yang cukup pening dengan jawaban yang saya berikan. Permasalahannya adalah bagaimana kita mampu membimbing pelajar kita.

Di tempat saya bekerja, seperti universitas lainnya, ada beberapa dosen yang terkenal sangar. Masuk kelas dia artinya nilai B+ adalah nilai maksimum. Karna dosen tersebut punya standar tersendiri. Ada juga dosen yang tipikal “peternak ayam”. Bimbingan banyak tapi dilepas kayak ayam di pekarangan rumah. Tapi ujung-ujungnya ayam ayam tersebut “disembelih”. Ada juga tipikal dosen “Captain America”. Dicintai semua pelajar. Entah karna dia ngajarnya bagus, atau fisiknya bagus (ini pasti bukan saya), atau ngasih nilainya bagus.

Tapia bagaimana seharusnya kita membimbing pelajar kita? Sangar, peternak ayam, atau captain America?

Jujur, saya pun tidak tahu jawabannya. Yang pasti, saya ga mau pengalaman saya waktu kuliah dulu terulang. Baik pengalaman saya atau kawan-kawan saya. Misalnya saja, ga ada angin, ga ada hujan, tiba-tiba UTS (Mid exam). Atau, tiba tiba kelas dipindahkan harinya. Atau, pas bimbingan, dosennya ga ada. Pas kita mau minta diajar ini itu, dosennya ngeles. Engga, saya ga mau kayak gitu. Saya cuma pengen bertanggungjawab.

Bertanggungjawab ini pun banyak bentuknya. Mulai hal-hal kecil dalam kelas. Mahasiswanya ribut dan bising, ya kita tegur. Mahasiswanya ga bisa datang kelas, ya minta alasan. Mahasiswanya menyontek pas ujian, ya kita kasih F. Bisa juga hal hal sewaktu berinteraksi. Misalnya, cara mau masuk ke ruangan kita, berpakaian, bertutur sapa, dan banyak hal lainnya.

Bertanggungjawab juga dalam memberi bimbingan. Hal ini termasuk informasi yang akan kita berikan kepada mereka. Ini salah satu alasana kenapa saya langganan “The Economist”, “TIME”, “BBC Knowledge”, sampe “Travel Leisure”. Supaya saya boleh merangsang pemikiran mereka terkait antara pelajaran dalam kelas dan fakta di lapangan. Contoh mudahnya, apakah dengan meniadakan visa pelancongan akan mengurangi fluktuasi kurs? Atau kalau ditilik dari sejarah sistem moneter internasional, bagaimana kelangsungan bitcoins? Itu contoh pertanyaan saya dalam kelas International Finance saya.

Hal lain dalam bertangunggjawab dalam memberi bimbingan ialah pada masa bimbingan tesis atau skripsi. Jika kita tidak terlalu mahfum terhadap satu pendekatan, ya kita jangan jebak mahasiswa kita. Contohnya, jika kita tidak tahu GMM model atau ARIMA, ya jangan kasih bimbingannya untuk analisis guna model itu. Benar seh, mahasiswa boleh belajar sendiri, lalu bagaimana nanti kita verifikasi bahwa yang dibuat mahasiswa udah benar atau belum? Standarnya ya minta tolong ke dosen lain yang artinya ngeribetin dosen lain. Iya kalau dosen lain itu bersedia, kalau tidak?

BAHAYAnya lagi, kamu yang dosen dosen itu “menipu” bimbingan kamu. Itu memang benar-benar ga bertanggungjawab. Apalagi yang kamu kasih tahu itu menyebar kemana-mana dan menjadi pegangan umum para mahasiswa. “But sir, Joko (bukan nama sebenar) said not like that wor….”. Dan ini menyita waktu dan pikiran. Harus buka buku lagi, kasih tunjuk ke mahasiswa, ajarkan sekali lagi, dan terpaksa berseloroh “See? You pass statistics and econometrics, but this one you don’t know kah?”. Hadeh…

Di satu sisi mungkin mahasiswanya memang manja, tapi sisi lainnya adalah tanggung jawab dosen untuk membimbing mereka ke jalan riset/akademik yang benar. Kalau ga tau, ya bilang aja ga tau. Gitu aja kok repot?

Baru baru saja, salah satu dosen sebut saja Dr. MAA (inisial sebenar), datang ke office nanya gimana cara run VAR sampe VARX. Saya jujur saja ngasih tau beliau kalau saya sudah lama tidak pake eviews karna studi saya beralih ke corporate strategy. So kalau sampe VAR masih dikit-dikit ingat, kalau lebih dari itu, terpaksa Tanya Dr. PCH atau Dr. EL (inisial sebenar).

Ada juga bimbingan saya yang ngebet buat efisiensi bank. Pernyataan saya sederhana saja “I don’t know how to run DEA, but we can learn together, or you find Dr. R (inisial sebenar) because she is good in DEA”. Dan saya harus bilang ke dia, kalau saya memang ga bisa bimbing dia kalau dia pilih topik DEA. Fair kan?

Itu lebih bagus daripada nyebar sesuatu ke para mahasiswa dan ternyata salah. Daripada bilang ke mahasiswa kalau tabel yang bagus itu HARUS ada p-value daripada standard error. Atau daripada bilang ke mahasiswa kalau semua jenis panel data HARUS dilaporkan dalam satu analisa terlepas hasil Bresuch-Pagan dan Hausman test. Atau daripada bilang ke mahasiswa kalau heterocedasticity ga ada efek ke model kita. Itu sama lucunya dengan pernyataan kalau si Rayenda itu lebih ganteng daripada Lee Min Ho. Paham?

Lagian, selepas saya mengakui saya tidak tahu ini dan itu, buktinya saya tidak sakit (badan saya masih gemuk), atau mati karna malu. So, kenapa harus takut mengakui ketidaktahuan kita?

Intinya, bertanggungjawablah sedikit dengan pernyataan kita.

Samarahan,

Mei 2015

(tulisan diatas memang 892 kata, tapi paling tidak meredakan kekesalan saya. Terima kasih Bill Gates untuk menciptakan words, dan Matt Mullenweg dan Matt Little karna menciptakan WordPress)

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s